

Di usia 15 tahun, Dandin tidak langsung pulang untuk bermain setelah sekolah. Ia berjalan berkeliling menjajakan kerupuk opak buatan ibunya. Dari hasil jualan yang tidak seberapa, ia berusaha memenuhi kebutuhan sekolah sekaligus meringankan beban keluarganya. Kini, saat memasuki SMA, Dandin membutuhkan dukungan agar langkahnya menuju pendidikan dan cita-cita tidak terhenti.
Bel sekolah berbunyi, tetapi bagi Dandin, hari belum benar-benar selesai. Saat teman-teman seusianya pulang dan menikmati waktu bersama keluarga, Dandin justru membawa kerupuk opak buatan ibunya untuk dijajakan. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain, menawarkan dagangannya dengan harga hanya sekitar Rp5.000. Tidak selalu laku. Kadang ia pulang setelah berjalan jauh tanpa membawa banyak hasil. Bahkan, ia sering merasa malu ketika diperhatikan anak-anak seusianya. Namun, Dandin tetap melakukannya karena dari sanalah ia bisa mendapatkan uang untuk membeli perlengkapan sekolah dan membantu kebutuhan keluarganya.

Sejak ayahnya meninggal dunia karena sakit, Dandin tinggal bersama ibunya, Maesaroh. Sang ibu bekerja sebagai buruh pembuat adonan opak dengan penghasilan sekitar Rp20.000–Rp50.000, itu pun bergantung pada pesanan dan ketersediaan bahan. Ketika pekerjaan ibunya sedang sepi, Dandin berusaha mengambil peran lebih banyak. Pendapatan berjualan yang terkadang hanya sekitar Rp30.000 sehari mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bagi Dandin, uang tersebut berarti buku yang bisa dibeli, kebutuhan sekolah yang bisa dipenuhi, dan kebutuhan rumah yang sedikit terbantu.

Kini, perjuangannya memasuki babak baru. Dandin telah melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, dengan kebutuhan yang tentu lebih besar. Sekolahnya berjarak hampir 10 kilometer dari rumah dan selama ini harus ia tempuh dengan berjalan kaki. Ia masih membutuhkan seragam, termasuk seragam Pramuka yang belum dimilikinya, buku, LKS, alat tulis, serta keperluan sekolah lainnya. Melalui kempen ini, sumbangan yang terkumpul akan dialokasikan untuk perlengkapan pendidikan, seragam sekolah, buku dan alat tulis, LKS, keperluan perjalanan ke sekolah, serta kebutuhan pendukung pendidikan Dandin lainnya, sekaligus meringankan beban keluarganya.
Dandin sudah memilih untuk tidak menyerah. Kini, mari kita bantu agar ia tidak harus memilih antara sekolah dan membantu keluarganya.
Mungkin bagi kita, membeli satu perlengkapan sekolah bukan perkara besar. Namun bagi Dandin, perlengkapan itu adalah bagian dari langkahnya untuk tetap berada di bangku sekolah.
Dandin memiliki cita-cita menjadi seorang tentara. Di tengah tanggung jawabnya membantu sang ibu dengan berjualan kerupuk, ia tetap berusaha untuk tidak menyerah pada pendidikan. Dukung semangat Dandin dengan cara :
1️⃣ Klik Donasi
2️⃣ Masukkan nominal donasi
3️⃣ Pilih metode pembayaran
4️⃣ Selesaikan donasi dan titipkan kebaikan
Sumbangan kita dapat menjadi seragam yang akhirnya ia miliki, buku yang bisa ia gunakan untuk belajar, atau ongkos perjalanan yang membuat langkahnya menuju sekolah terasa sedikit lebih ringan.
Yuk #TemanBaik, bukan sekadar membantu Dandin hari ini, tetapi ikut menjaga agar ia tetap punya kesempatan untuk menulis masa depannya sendiri.
Disclaimer : gerakbaik.org tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Penggalang dana mengalokasikan sebagian donasi terkumpul untuk pembiayaan promosi iklan karena campaign bersifat darurat. Seluruh pembiayaan promosi dibayarkan 100% ke penyedia iklan seperti Facebook, TikTok, dan media lainnya.
![]()
Belum ada Fundraiser